Banyak orang masih salah paham tentang pterigium, yaitu selaput putih kekuningan di sudut mata yang bisa tumbuh ke arah kornea. Sayangnya, beredar banyak mitos yang membuat orang salah kaprah. Berikut penjelasan medisnya:
Mitos 1: Pterigium Disebabkan Karena Kurang Tidur
❌ Fakta: Kurang tidur mungkin membuat mata merah, tapi tidak menyebabkan pterigium. Penyebab utama tetap paparan sinar UV, debu, dan iritasi kronis.
Mitos 2: Pterigium Bisa Hilang dengan Obat Tetes
❌ Fakta: Obat tetes hanya meredakan iritasi dan merah, tapi tidak bisa menghilangkan pterigium. Selaput hanya bisa diangkat melalui tindakan medis (operasi).
Mitos 3: Pterigium Itu Sama dengan Katarak
❌ Fakta: Katarak terjadi di dalam lensa mata, sedangkan pterigium di permukaan mata. Keduanya berbeda meskipun sama-sama bisa mengganggu penglihatan.
Mitos 4: Pterigium Menular
❌ Fakta: Pterigium bukan penyakit menular. Faktor lingkungan dan genetik lebih dominan.
Mitos 5: Pterigium Tidak Bisa Dicegah
❌ Fakta: Bisa dicegah dengan perlindungan sederhana seperti kacamata UV, topi, dan menjaga kelembapan mata.
Pterigium adalah pertumbuhan jaringan di permukaan mata yang tampak seperti selaput putih kekuningan. Kondisi ini sering terjadi akibat paparan sinar UV, debu, dan iritasi mata kronis. Meski umumnya tidak berbahaya, pterigium yang dibiarkan bisa menutupi kornea dan mengganggu penglihatan. Dengan mengenali gejala sejak dini dan melakukan pencegahan sederhana, Anda bisa terhindar dari risiko pterigium. Jika sudah muncul gejala, jangan ragu untuk segera melakukan pemeriksaan ke dokter spesialis mata di Rumah Sakit Mata Ramata agar mendapatkan penanganan yang tepat.






